Jumat, 05 November 2010

DEADLOCK PADA SISTEM OPERASI

Deadlock adalah keadaan dimana dua program memegang kontrol terhadap sumber daya yang dibutuhkan oleh program yang lain. Tidak ada yang dapat melanjutkan proses masing-masing sampai program yang lain memberikan sumber dayanya, tetapi tidak ada yang mengalah.
Deadlock yang mungkin dapat terjadi pada suatu proses disebabkan proses itu menunggu suatu kejadian tertentu yang tidak akan pernah terjadi. Dua atau lebih proses dikatakan berada dalam kondisi deadlock, bila setiap proses yang ada menunggu suatu kejadian yang hanya dapat dilakukan oleh proses lain dalam himpunan tersebut.

ilustarsi
Misalkan pada suatu komputer terdapat dua buah program, sebuah tape driveprinter. Program A mengontrol tape drive, sementara program B mengontrol printer. Setelah beberapa saat, program A meminta printer, tapi printer masih digunakan. Berikutnya, B meminta tape drive, sedangkan A masih mengontrol tape drive. Dua program tersebut memegang kontrol terhadap sumber daya yang dibutuhkan oleh program yang lain. Tidak ada yang dapat melanjutkan proses masing-masing sampai program yang lain memberikan sumber dayanya, tetapi tidak ada yang mengalah. Kondisi inilah yang disebut Deadlock atau pada beberapa buku disebut Deadly Embrace dan sebuah
Deadlock yang mungkin dapat terjadi pada suatu proses disebabkan proses itu menunggu suatu kejadian tertentu yang tidak akan pernah terjadi. Dua atau lebih proses dikatakan berada dalam kondisi deadlock, bila setiap proses yang ada menunggu suatu kejadian yang hanya dapat dilakukan oleh proses lain dalam himpunan tersebut.
Terdapat kaitan antara overhead dari mekanisme koreksi dan manfaat dari koreksi deadlock itu sendiri. Pada beberapa kasus, overhead atau ongkos yang harus dibayar untuk membuat sistem bebas deadlock menjadi hal yang terlalu mahal dibandingkan jika mengabaikannya. Sementara pada kasus lain, seperti pada real-time process control, mengizinkan deadlock akan membuat sistem menjadi kacau dan membuat sistem tersebut tidak berguna.
Contoh berikut ini terjadi pada sebuah persimpangan jalan. Beberapa hal yang dapat membuat deadlock pada suatu persimpangan, yaitu:
Terdapat satu jalur pada jalan.
Mobil digambarkan sebagai proses yang sedang menuju sumber daya.
Untuk mengatasinya beberapa mobil harus preempt (mundur).
Sangat memungkinkan untuk terjadinya starvation (kondisi proses tak akan mendapatkan sumber daya).



Resources-Allocation Graph
Sebuah cara visual (matematika) untuk menentukan apakah ada deadlock, atau kemungkinan terjadinya.
G = (V, E) Graf berisi node and edge. Node V terdiri dari proses-proses = {P1, P2, P3, ...} dan jenis resource. {R1, R2, ...} Edge E adalah (Pi, Rj) atau (Ri, Pj)
Jika graf tidak berisi lingkaran, maka tidak ada proses yang deadlock.
Jika membentuk lingkaran, maka:
jika tipe resource memiliki banyak instance, maka deadlock DAPAT ada.
Gambar 3-15. Non Deadlock.

Model Sistem
Menurut Coffman dalam bukunya "Operating System" menyebutkan empat syarat bagi terjadinya deadlock, yaitu:
Mutual Exclusion
Suatu kondisi dimana setiap sumber daya diberikan tepat pada satu proses pada suatu waktu.
Hold and Wait
Kondisi yang menyatakan proses-proses yang sedang memakai suatu sumber daya dapat meminta sumber daya yang lain.
Non-pre-emptive
Kondisi dimana suatu sumber daya yang sedang berada pada suatu proses tidak dapat diambil secara paksa dari proses tersebut,sampai proses itu melepaskannya.
Circular Wait
Kondisi yang menyatakan bahwa adanya rantai saling meminta sumber daya yang dimiliki oleh suatu proses oleh proses lainnya.
Strategi menghadapi Deadlock
Strategi untuk menghadapi deadlock dapat dibagi menjadi tiga pendekatan, yaitu:
Mengabaikan adanya deadlock.
Memastikan bahwa deadlock tidak akan pernah ada, baik dengan metode Pencegahan, dengan mencegah empat kondisi deadlock agar tidak akan pernah terjadi. Metode Menghindari deadlock, yaitu mengizinkan empat kondisi deadlock, tetapi menghentikan setiap proses yang kemungkinan mencapai deadlock.
Membiarkan deadlock untuk terjadi, pendekatan ini membutuhkan dua metode yang saling mendukung, yaitu:
Pendeteksian deadlock, untuk mengidentifikasi ketika deadlock terjadi.
Pemulihan deadlock, mengembalikan kembali sumber daya yang dibutuhkan pada proses yang memintanya.
Dari penjabaran pendekatan diatas, terdapat empat metode untuk mengatasi deadlock yang akan terjadi, yaitu:
Strategi Ostrich
Pendekatan yang paling sederhana adalah dengan menggunakan strategi burung unta: masukkan kepala dalam pasir dan seolah-olah tidak pernah ada masalah sama sekali. Beragam pendapat muncul berkaitan dengan strategi ini. Menurut para ahli Matematika, cara ini sama sekali tidak dapat diterima dan semua keadaan deadlock harus ditangani. Sementara menurut para ahli Teknik, jika komputer lebih sering mengalami kerusakkan disebabkan oleh kegagalan hardware, error pada kompilator atau bugsdeadlock sangatlah besar dan lebih baik mengabaikan keadaan deadlock tersebut. Metode ini diterapkan pada sistem operasi UNIX dan MINIX. pada sistem operasi. Maka ongkos yang dibayar untuk melakukan penanganan
Mencegah Deadlock
Metode ini merupakan metode yang paling sering digunakan. Metode Pencegahan dianggap sebagai solusi yang bersih dipandang dari sudut tercegahnya deadlock. Tetapi pencgahan akan mengakibatkan kinerja utilisasi sumber daya yang buruk.
Metode pencegahan menggunakan pendekatan dengan cara meniadakan empat syarat yang dapat menyebabkan deadlock terjadi pada saat eksekusi Coffman (1971).
Syarat pertama yang akan dapat ditiadakan adalah Mutual Exclusion, jika tidak ada sumber daya yang secara khusus diperuntukkan bagi suatu proses maka tidak akan pernah terjadi deadlock. Namun jika membiarkan ada dua atau lebih proses mengakses sebuah sumber daya yang sama akan menyebabkan chaos. Langkah yang digunakan adalah dengan spoolingjob-job pada antrian dan akan dilayani satu-satu. sumber daya, yaitu dengan mengantrikan
Beberapa masalah yang mungkin terjadi adalah:
Tidak semua dapat di-spool, tabel proses sendiri tidak mungkin untuk di-spool
Kompetisi pada ruang disk untuk spooling sendiri dapat mengarah pada deadlock
Hal inilah yang menyebabkan mengapa syarat pertama tidak dapat ditiadakan, jadi mutual exclusion benar-benar tidak dapat dihilangkan.
Cara kedua dengan meniadakan kondisi hold and wait terlihat lebih menjanjikan. Jika suatu proses yang sedang menggunakan sumber daya dapat dicegah agar tidak dapat menunggu sumber daya yang lain, maka deadlock dapat dicegah. Langkah yang digunakan adalah dengan membuat proses agar meminta sumber daya yang mereka butuhkan pada awal proses sehingga dapat dialokasikan sumber daya yang dibutuhkan. Namun jika terdapat sumber daya yang sedang terpakai maka proses tersebut tidak dapat memulai prosesnya.
Masalah yang mungkin terjadi:
Sulitnya mengetahui berapa sumber daya yang dibutuhkan pada awal proses
Tidak optimalnya pengunaan sumber daya jika ada sumber daya yang digunakan hanya beberapa waktu dan tidak digunakan tapi tetap dimiliki oleh suatu proses yang telah memintanya dari awal.
Meniadakan syarat ketiga non preemptive ternyata tidak lebih menjanjikan dari meniadakan syarat kedua, karena dengan meniadakan syarat ketiga maka suatu proses dapat dihentikan ditengah jalan. Hal ini tidak dimungkinkan karena hasil dari suatu proses yang dihentikan menjadi tidak baik.
Cara terakhir adalah dengan meniadakan syarat keempat circular wait. Terdapat dua pendekatan, yaitu:
Mengatur agar setiap proses hanya dapat menggunakan sebuah sumber daya pada suatu waktu, jika menginginkan sumber daya lain maka sumber daya yang dimiliki harus dilepas.
Membuat penomoran pada proses-proses yang mengakses sumber daya. Suatu proses dimungkinkan untuk dapat meminta sumber daya kapan pun, tetapi permintaannya harus dibuat terurut.
Masalah yang mungkin terjadi dengan mengatur bahwa setiap proses hanya dapat memiliki satu proses adalah bahwa tidak semua proses hanya membutuhkan satu sumber daya, untuk suatu proses yang kompleks dibutuhkan banyak sumber daya pada saat yang bersamaan. Sedangkan dengan penomoran masalah yang dihadapi adalah tidak terdapatnya suatu penomoran yang dapat memuaskan semua pihak.
Secara ringkas pendekatan yang digunakan pada metode pencegahan deadlock dan masalah-masalah yang menghambatnya, terangkum dalam tabel dibawah ini.
Tabel 3-1. Tabel Deadlock
Syarat
Langkah
Kelemahan
Mutual Exclusion
Spooling sumber daya
Dapat menyebabkan chaos
Hold and Wait
Meminta sumber daya di awal
Sulit memperkirakan di awal dan tidak optimal
No Pre-emptive
Mengambil sumber daya di tengah proses
Hasil proses tidak akan baik
Circular Wait
Penomoran permintaan sumber daya
Tidak ada penomoran yang memuaskan semua pihak
Empat kondisi tersebut adalah:


1.Mutual Exclusion . Kondisi yang pertama adalah mutual exclusion yaitu proses memiliki hak milik pribadi terhadap sumber daya yang sedang digunakannya. Jadi, hanya ada satu proses yang menggunakan suatu sumber daya. Proses lain yang juga ingin menggunakannya harus menunggu hingga sumber daya tersebut dilepaskan oleh proses yang telah selesai menggunakannya. Suatu proses hanya dapat menggunakan secara langsung sumber daya yang tersedia secara bebas.


2.Hold and Wait . Kondisi yang kedua adalah hold and wait yaitu beberapa proses saling menunggu sambil menahan sumber daya yang dimilikinya. Suatu proses yang memiliki minimal satu buah sumber daya melakukan request lagi terhadap sumber daya. Akan tetapi, sumber daya yang dimintanya sedang dimiliki oleh proses yang lain. Pada saat yang sama, kemungkinan adanya proses lain yang juga mengalami hal serupa dengan proses pertama cukup besar terjadi. Akibatnya, proses-proses tersebut hanya bisa saling menunggu sampai sumber daya yang dimintanya dilepaskan. Sambil menunggu, sumber daya yang telah dimilikinya pun tidak akan dilepas. Semua proses itu pada akhirnya saling menunggu dan menahan sumber daya miliknya.


3.No Preemption . Kondisi yang selanjutnya adalah no preemption yaitu sebuah sumber daya hanya dapat dilepaskan oleh proses yang memilikinya secara sukarela setelah ia selesai menggunakannya. Proses yang menginginkan sumber daya tersebut harus menunggu sampai sumber daya tersedia, tanpa bisa merebutnya dari proses yang memilikinya.


4.Circular Wait . Kondisi yang terakhir adalah circular wait yaitu kondisi membentuk siklus yang berisi proses-proses yang saling membutuhkan. Proses pertama membutuhkan sumber daya yang dimiliki proses kedua, proses kedua membutuhkan sumber daya milik proses ketiga, dan seterusnya sampai proses ke n-1 yang membutuhkan sumber daya milik proses ke n. Terakhir, proses ke n membutuhkan sumber daya milik proses yang pertama. Yang terjadi adalah proses-proses tersebut akan selamanya menunggu.

Menghindari Deadlock



Pendekatan metode ini adalah dengan hanya memberi kesempatan ke permintaan sumber daya yang tidak mungkin akan menyebabkan deadlock. Metode ini memeriksa dampak pemberian akses pada suatu proses, jika pemberian akses tidak mungkin menuju kepada deadlock, maka sumber daya akan diberikan pada proses yang meminta. Jika tidak aman, proses yang meminta akan di-suspend sampai suatu waktu permintaannya aman untuk diberikan. Kondisi ini terjadi ketika setelah sumber daya yang sebelumnya dipegang oleh proses lain telah dilepaskan.
Kondisi aman yang dimaksudkan selanjutnya disebut sebagai safe-state, sedangkan keadaan yang tidak memungkinkan untuk diberikan sumber daya yang diminta disebut unsafe-state.
Kondisi Aman (Safe state)
Suatu keadaan dapat dinyatakan sebagai safe state jika tidak terjadi deadlock dan terdapat cara untuk memenuhi semua permintaan sumber daya yang ditunda tanpa menghasilkan deadlock. Dengan cara mengikuti urutan tertentu.
Kondisi Tak Aman (Unsafe state)
Suatu state dinyatakan sebagai state tak selamat (unsafe state) jika tidak terdapat cara untuk memenuhi semua permintaaan yang saat ini ditunda dengan menjalankan proses-proses dengan suatu urutan.

Algoritma Bankir
Algoritma penjadualan ini diungkapkan oleh Dijkstra (1965) lebih dikenal dengan nama Algoritma Bankir. Model ini menggunakan suatu kota kecil sebagai percontohan dengan suatu bank sebagai sistem operasi, pinjaman sebagai sumber daya dan peminjam sebagai proses yang membutuhkan sumber daya. Deadlock akan terjadi apabila terdapat seorang peminjam yang belum mengembalikan uangnya dan ingin meminjam kembali, padahal uang yang belum dikembalikan tadi dibutuhkan oleh peminjam lain yang juga belum mengembalikan uang pinjamannya.
Beberapa kelemahan algoritma Bankir Tanenbaum (1992), Stallings (1995) dan Deitel (1990) adalah sebagai berikut:
Sulit untuk mengetahui seluruh sumber daya yang dibutuhkan proses pada awal eksekusi.
Jumlah proses yang tidak tetap dan berubah-ubah.
Sumber daya yang tadinya tersedia dapat saja menjadi tidak tersedia kembali.
Proses-proses yang dieksekusi haruslah tidak dibatasi oleh kebutuhan sinkronisasi antar proses.
Algoritma ini menghendaki memberikan semua permintaan selama waktu yang berhingga.




Menghindari terjadinya deadlock. Tujuan metode ini adalah menghindarkan kondisi-kondisi yang paling mungkin menimbulkan deadlock agar memperoleh utilisasi sumber daya lebih baik. Penghindaran ini bukan berarti menghilangkan semua kemungkinan terjadinya deadlock. Secara teoritis, deadlock memungkinkan. Sistem operasi memeriksa semua permintaan sumber daya secara hari-hati. Jika sistem operasi mengetahui bahwa alokasi sumber daya menimbulkan resiko deadlock, sistem menolak pengaksesan itu. Dengan menghindari terjadinya deadlock.


Banker's Algorithm for Deadlock Avoidance
When a request is made, check to see if after the request is satisfied, there is a (atleast one!) sequence of moves that can satisfy all the requests. ie. the new state is safe. If so, satisfy the request, else make the request wait.
How do you find if a state is safe


n process and m resources
Max[n * m]
Allocated[n * m]
Still_Needs[n * m]
Available[m]
Temp[m]
Done[n]

while () {
Temp[j]=Available[j] for all j
Find an i such that
a) Done[i] = False
b) Still_Needs[i,j] <= Temp[j]
if so {
Temp[j] += Allocated[i,j] for all j
Done[i] = TRUE}
}
else if Done[i] = TRUE for all i then state is safe
else state is unsafe
}




Mendeteksi Deadlock dan Memulihkan Deadlock
Metode ini mengunakan pendekatan dengan teknik untuk menentukan apakah deadlock sedang terjadi serta proses-proses dan sumber daya yang terlibat dalam deadlock tersebut. Setelah kondisi deadlock dapat dideteksi, maka langkah pemulihan dari kondisi deadlock dapat segera dilakukan. Langkah pemulihan tersebut adalah dengan memperoleh sumber daya yang diperlukan oleh proses-proses yang membutuhkannya. Beberapa cara digunakan untuk mendapatkan sumber daya yang diperlukan, yaitu dengan terminasi proses dan pre-emption (mundur) suatu proses. Metode ini banyak digunakan pada komputer mainframe berukuran besar.
Terminasi Proses
Metode ini akan menghapus proses-proses yang terlibat pada kondisi deadlock dengan mengacu pada beberapa syarat. Beberapa syarat yang termasuk dalam metode ini adalah, sebagai berikut:
Menghapus semua proses yang terlibat dalam kondisi deadlock (solusi ini terlalu mahal).
Menghapus satu persatu proses yang terlibat, sampai kondisi deadlock dapat diatasi (memakan banyak waktu).
Menghapus proses berdasarkan prioritas, waktu eksekusi, waktu untuk selesai, dan kedalaman dari rollback.
Resources Preemption
Metode ini lebih menekankan kepada bagaimana menghambat suatu proses dan sumber daya, agar tidak terjebak pada unsafe condition.
Beberapa langkahnya, yaitu:
Pilih salah satu - proses dan sumber daya yang akan di-preempt.
Rollback ke safe state yang sebelumnya telah terjadi.
Mencegah suatu proses agar tidak terjebak pada starvation karena metode ini.

Kesimpulan

Kondisi deadlock akan dapat terjadi jika terdapat dua atau lebih proses yang akan mengakses sumber daya yang sedang dipakai oleh proses yang lainnya. Pendekatan untuk mengatasi deadlock dipakai tiga buah pendekatan, yaitu:
Memastikan bahwa tidak pernah dicapai kondisi deadlock
Membiarkan deadlock untuk terjadi dan memulihkannya
Mengabaikan apa pun deadlock yang terjadi
Dari ketiga pendekatan diatas, dapat diturunkan menjadi empat buah metode untuk mengatasi deadlock, yaitu:
Pencegahan deadlock
Menghindari deadlock
Mendeteksi deadlock
Pemulihan deadlock
Namun pada sebagian besar Sistem Operasi dewasa ini mereka lebih condong menggunakan pendekatan untuk mengabaikan semua deadlock yang terjadi
Silberschatz (1994) merumuskan sebuah strategi penanggulangan deadlock terpadu yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang berbeda, strateginya sendiri berbunyi:
Kelompokkan sumber daya kedalam kelas yang berbeda
Gunakan strategi pengurutan linear untuk mencegah kondisi circular waityang nantinya akan mencegah deadlock diantara kelas sumber daya
Gunakan algoritma yang paling cocok untuk suatu kelas sumber daya yang berbeda satu dengan yang lain.

Kamis, 04 November 2010

TUGAS SISTEM OPERASI TEORI


1.
Gambar direktori linux

2.
/ etc : Berisi file administrative ( konfigurasi dll ) dan file executable atau script yang berguna untuk administrative system

/ dev : Berisi file khusus yang merepresentasikan peralatan hardware seperti memori, disk, printer, tape, floopy, jaringan.
/ bin : Berisi program standar linux ( binary )
/ usr/sbin : berisi utilitas linux
/ usr/lib : berisi program library yang di perlukan untuk kompilasi program ( misalnya C). berisi intruksi (command) misalnya untuk print, Spooler (lpadmin).

3.
- aturan penamaan file : Nama file maksimal terdiri dari 255 karakter berupa alfanumerik dan beberapa karakter special yaitu garis bawah, titik,koma dan lainnya kecuali spasi dan karakter, linux membedakan huruf kecil dan huruf besar.

*
Aturan pembutan direktori pada linux :

4.
Path absolut adalah path absolut dimulai dengan tanda garis

5. Perintah cd : perintah tersebut di pakai untuk mengubah direktori

6.
Perintah ls : perintah tersebut di pakai untuk melihat isi current directory atau direktori tertentu

7.
Perintah cp : perintah tersebut adalah untuk meng-copy file dan direktori

8.
Perintah mv : perintah tersebut adalah perintah untuk memindahkan dan atau mengubah nama file dan direktori

9.
Perintah rm : perintah tersebut adalah perintah untuk menghapus file

10.
Perintha touch : perintah tersebut di gunakan untuk membuat file kosong atau mengubah file

11.
Perintah mkdir : perintah tersebut adalah perintah membuat direktori baru

12.
Perintah rmdir : perintah tersebut adalah perintah untuk menghapus direktori kosong

13.
Perintah file : perintah tersebut adlah perintah untuk meihat tipe file

14.
Perintah cat : perintah untuk menampilkan isi file

15.
Perintah less : perintah untuk melihat halaman teks halaman per halaman.

Kamis, 29 April 2010

<em>Ampersands & angle brackets need to be encoded.</em><html>
<head><title>Membuat Rekaman Objek</title></head>
<body>
<script language = "JavaScript">
<!--
var Record = [];
function Mahasiswa(npm, nama, prodi, jenjang) {
// Properti
this.npm = npm;
this.nama = nama;
this.prodi = prodi;
this.jenjang = jenjang;

// Metode

this.LihatRecordMahasiswa = LihatRecordMahasiswa;
}

function LihatRecordMahasiswa() {
document.write("<td>" + this.npm + "</td>");
document.write("<td>" + this.nama + "</td>");
document.write("<td>" + this.prodi + "</td>");
document.write("<td>" + this.jenjang + "</td>");
}

//mengisi data
Record[0] = new Mahasiswa("43E001", "Dani", "TI", "S1");
Record[1] = new Mahasiswa("43E001", "Doni", "TI", "S1");
Record[2] = new Mahasiswa("43E001", "Dina", "TI", "S1");
Record[3] = new Mahasiswa("43E001", "Dini", "TI", "S1");

//menampilkan data
document.write("<table border = '1'>");
document.write("<th>NPM</th> <th>Nama</th>");
document.write("<th>Prodi</th><th>Jenjang</th> <br>");

for (i=0; i < Record.length; i++)
{
document.write("<tr>");
Record[i].LihatRecordMahasiswa();
document.write("</tr>");
}
document.write("</table> <br>")

//-->

</script>
</body>
</html>
<em>Ampersands & angle brackets need to be encoded.</em><html>
<head>
<title>Belajar Array</title>
</head>
<body>
<script language="JavaScript">
<!--
var data_ku =new Array("senin","selasa","rabu","kamis","jumat","sabtu","minggu");
for (i=0; i<7; i++)
{
document.write(data_ku[i] +"<br>");
}
alert ("salamatbelajar setruktur data");
alert ("semoga memperoleh ilmu yang bermanfaat");
//-->
</script>
</body>
</html>



<em>Ampersands & angle brackets need to be encoded.</em><html>
<head><title>Memanipulasi Data Pegawai</title>
<script language = "JavaScript" type="text/JavaScript">
<!--
var DBPegawai = new Array();
function Pegawai( Fields_NIP,Fields_Nama,Fields_Gaji_Per_Jam,Fields_Jam_Kerja,Fields_Gaji_Total)
{
this.NIP = Fields_NIP;
this.Nama = Fields_Nama;
this.Gaji_Jam = Fields_Gaji_Per_Jam;
this.Jam_Kerja = Fields_Jam_Kerja;
this.Gaji_Total = Fields_Gaji_Total;
}
function inputPegawai()
{
var Nama,Gaji_Per_Jam, Jam_Kerja, Gaji;
while ( NIP = window.prompt( "Ketikan NIP (Nomor Induk Pegawai)\n\n Click 'cancel' untuk Berhenti !!.") )
{
Nama = window.prompt( "Nama Pegawai :" );
Gaji_Per_Jam = parseInt(window.prompt("Gaji Per Jam :" ));
Jam_Kerja = parseInt(window.prompt("Jumlah Jam Kerja :" ));
Gaji = Gaji_Per_Jam * Jam_Kerja;
DBPegawai[DBPegawai.length] = new Pegawai(NIP,Nama,Gaji_Per_Jam,Jam_Kerja,Gaji);
}
ShowPegawai();
}
function ShowPegawai() {
document.write("<table border='1'>" +
"<tr>" +
"<th>NIP</th><th>Nama</th><th>Gaji Per Jam</th><th>Jam Kerja</th>"+
"<th>Gaji Total</th>" +
"</tr>");

for (i=0; i < DBPegawai.length; i++) {
document.write("<tr>" +
" <td>" + DBPegawai[i].NIP + "</td>" +
" <td>" + DBPegawai[i].Nama + "</td>" +
" <td align='right'>" + DBPegawai[i].Gaji_Jam + "</td>" +
" <td align='right'>" + DBPegawai[i].Jam_Kerja + "</td>" +
" <td align='right'>" + DBPegawai[i].Gaji_Total + "</td>" +
"</tr>");
}
document.write( "</table>");
}
//-->
</script>
</head>
<body onload ="inputPegawai();">
</body>
</html>
<em>Ampersands & angle brackets need to be encoded.</em><html>
<head>
<title>Belajar Array</title>
</head>
<body>
<script language="JavaScript">
<!--
var data_ku =new Array("saya","sedang","sanang","senang");
for (i=0; i<4; i++)
{
document.write(data_ku[i] +"<br>");
}
alert ("salamatbelajar setruktur data");
alert ("semoga memperoleh ilmu yang bermanfaat");
//-->
</script>
</body>
</html>

<em>Ampersands & angle brackets need to be encoded.</em><html>
<head>
<title>Belajar Array</title>
</head>
<body>
<script language="JavaScript">
<!--
var data_ku =new Array("saya","sedang","sanang","senang");
for (i=0; i<4; i++)
{
document.write(data_ku[i] +"<br>");
}
alert ("salamatbelajar setruktur data");
alert ("semoga memperoleh ilmu yang bermanfaat");
//-->
</script>
</body>
</html>
<em>Ampersands & angle brackets need to be encoded.</em><html>
<head>
<title>Belajar Array</title>
</head>
<body>
<script language="JavaScript">
<!--
var data_ku =new Array("saya","sedang","sanang");
for (i=0; i<3; i++)
{
document.write(data_ku[i] +"<br>");
}
alert ("salamatbelajar setruktur data");
alert ("semoga memperoleh ilmu yang bermanfaat");
//-->
</script>
</body>
</html>

Jumat, 26 Februari 2010

Tugas Struktur Data

Latihan 1 :
<HTML>
<HEAD>
<TITLE>Type Bilangan</TITLE>
</HEAD>
<BODY>
<SCRIPT LANGUAGE = "JavaScript">
<!--

var a = 15;
b = 14;

tambah = a + b;
kali = a * b;

document.write("Penambahan (" +a+ " + " +b+ ") = " + tambah);
document.write("<BR>");
document.write("Perkalian (" +a+ " x " +b+ ") = " + kali);
document.write("<BR>");

//-->
</SCRIPT>
</BODY>
</HTML>


Latihan 2 :
<HTML>
<HEAD>
<TITLE>Konversi Antar Sistem Bilangan</TITLE>
</HEAD>
<BODY>
<SCRIPT LANGUAGE = "JavaScript">
<!--

var bil = new Number(25);
document.write("Bilangan Desimal: " +bil + "<BR>");
document.write("<HR>");

document.write("Biner : " + bil.toString(2) + "<BR>");
document.write("Oktal : " + bil.toString(8) + "<BR>");
document.write("Heksa : " + bil.toString(16) +"<BR>");

//-->
</SCRIPT>
</BODY>
</HTML>


Latihan 3 :
<HTML>
<HEAD>
<TITLE>Membuat Fungsi Matematika Dengan JAvaScript</TITLE>
</HEAD>
<BODY>
<SCRIPT LANGUAGE = "JavaScript">
<!--

function jumlah(x, y) {
var hasil = x + y;

return(hasil);
}

var a = parseInt(prompt("Ketikan Bilangan A = \n Ingat Jangan String"));
var b = parseInt(prompt("Ketikan Bilangan B = \n Ingat Jangan String"));
var z = jumlah(a,b);

document.write(z);
document.write("<BR>");
document.write("<hr>");
document.write("Tipe Data nya adalah = " + typeof(z));

//-->
</SCRIPT>
</BODY>
</HTML>




Latihan 4 :
<html>

<head>

<title>Persamaan kuadrat</title>

</head>

<body>

<script language="JavaScript">

<!--

function determinant(a,b,c)

{

var d = (b*b)-(4*a*c);

return(d);

}



var a=parseFloat(prompt("Menghitung akar persamaan kuadrat masukan nilai A =\n"));

var b=parseFloat(prompt("Menghitung akar persamaan kuadrat masukan nilai B =\n"));

var c=parseFloat(prompt("Menghitung akat persamaan kuadrat masukan nilai C =\n"));



var det=determinant(a,b,c);

document.write("Nilai Determinannya = " +det+"<BR>");

document.write("<BR>");

document.write("<HR>");



if (det>0)

{

var x1 = (-b - Math.sqrt(det))/(2*a);

var x2 = (-b + Math.sqrt(det))/(2*a);



document.write("Nilai x1 = " +x1+ "<BR>");

document.write("Nilai x2 = " +x2+ "<BR>");

document.write("<BR>");

document.write("<HR>");

document.write("Akar-akarnya beda");

alert("Nilai akar-akarnya ada dan berbeda");

} else



if (det==0)

{

var x1 = (-b - Math.sqrt(det))/(2*a);

var x2 = (-b + Math.sqrt(det))/(2*a);



document.write("Nilai x1 = " +x1+ "<BR>");

document.write("Nilai x2 = " +x2+ "<BR>");

document.write("<BR>");

document.write("<HR>");

document.write("Akar-akarnya kembar");

alert("Nilai akar-akarnya sama");

} else

if (det<0)



{

document.write("Akar-akarnya tidak real");

alert("Nilai akar-akarnya tidak terdefinisi");

}



//-->

</script>

</body>

</html>